kaos dan kisah jadi cinderamata dari borneo indonesia terkasih

Jangan Bunuh Apapun Kecuali Waktu, Jangan Tinggalkan Apapun Kecuali Jejak Kaki, Jangan Bawa Apapun Kecuali Kaos keBorneo.

Ayo, Benahi Arsitekur Berkelas Agha Khan Ini

aga khan prasastiNamanya Pasar Citra Niaga. Letaknya di tengah kota Samarinda. Dibanding pasar Kebun Sayur di Balikpapan pasar ini terkesan lebih sepi, tetapi tipikal bisnisnya sama, yaitu pusat perdagangan batu hias da cenderamata. Seperti komplek ruko souvenir Indoniaga di Bergas, Bontang.

Tetapi pasar Citra Niaga Samarinda ini cukup membuat saya tertegun bangga sekaligus sedih. Kesedihan yang melengkapi perasaan saya pada Pulau yang begitu berjasa bagi bangsa Indonesia dan dunia ini. Memang, sejak mengenal Pulau Kalimantan lebih dekat, tiga tahun yang lalu,  saya jatuh cinta dengan daerah ini, sekaligus sedih dan prihatin atas penderitaannya.

Memasuki bagian tengah Pasar Citra Niaga perasaan saya tidak menentu, manakala melihat sebuah prasasti berwarna kuning emas dalam sebuah bangunan kecil yang masih menyisakan keindahan arsitekturnya. Ya, disitu bersemayam dalam “abai dan kesia-siaan” sebuah penghargaan yang masih berwibawa di kalangan negara berkembang Asia dan Afrika: AGHA KHAN AWARD!

Rupanya, arsitektur  pasar ini pernah mendapat penghargaan Agha Khan pada periode penghargaan tahun 1987 – 1989. Tetapi kondisi saat ini sungguh jauh dari semangat penghargaan sebuah yayasan dimana Cak Nur (Nurcholish Madjid-red) pernah menjabat sebagai salah satu Steering Commitee-nya.

Kenyataan ini menambah kagum saya pada Kalimantan, sekaligus keprihatinan yang dalam. Kami merindukan sebuah kebijakan yang cukup mendasar dan sederhana lepas dari berbagai tarikan kuasa dan politik sehingga membangkitkan kota-kota dari mimpi menjadi metropolis ala Tanah Abang Jakarta dan kembali kepada jati diri yang ramah, bersahaja namun percaya diri.***

——————————————————————————————

Halaman Tautan:

Citra Niaga Urban Development, Samarinda, Indonesia

Developer
P.T. Pandurata Indah (Didik Soewandi, Director), Jakarta, Indonesia

Architects
Antonio Ismael Risianto, PT Triaco, and PT Griyantara Architects, Jakarta, Indonesia

Users
Koperasi Pedagang Pasar (informal sector cooperative), Jakarta, Indonesia

Client
Samarinda Municipal Government, Samarinda, Indonesia

Sponsor
Institute for Development Studies, Jakarta, Indonesia

Completed in 1986

Before its transformation, this site was inhabited by a low-income migrant population working as street peddlers. These hawkers are still there occupying over 200 stalls provided for them free of charge by the urban development programme. Other built units include 79 smaller shops catering to high and medium income groups; 141 shop houses arranged in arcades, as well as infrastructural and recreational facilities. Pedestrian precincts are landscaped and automobiles are restricted to the periphery of the site. The entire complex is unified by the use of traditional roof forms. This social, economic and design accomplishment has been achieved through private and community involvement, without financial or technical assistance from the government or foreign donors. The jury notes that “the whole process has been a democratic one, culminating in the establishment of a management board representing through a co-operative, the interests of the peddlers, the shop keepers, the local government and the consultants.”

———————————————————————————————-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 19, 2009 by in kaltim and tagged , , , , , .
%d bloggers like this: