kaos dan kisah jadi cinderamata dari borneo indonesia terkasih

Jangan Bunuh Apapun Kecuali Waktu, Jangan Tinggalkan Apapun Kecuali Jejak Kaki, Jangan Bawa Apapun Kecuali Kaos keBorneo.

Menara Equator di Bontang Bersolek

‘Pak, maaf Ekuator itu apa ya?’ tanya driver taksi Bontang – Balikpapan itu dengan lugas. Lugu dan tegas. Ada dua hal menarik dari pertanyaan itu: sebuah kejujuran nan mengharukan yang patut diapresiasi dan sebuah kenyataan yang membuat saya berkulum senyum: potret karikatif tentang kita yang berjarak dengan tanah sendiri. (Bedanya kawan kita ini sportif dan segera bertanya, semoga ia akan menjadi corong bagi kemajuan wisata daerah ini.)

Pertanyaan itu muncul sekian waktu setelah teman seperjalanan kami, Ibu Arista, heboh mengenai tugu atau menara Equator di luar kota Bontang ke arah Samarinda.

Rupanya Ibu ini pernah punya cerita unik mengenai si Tugu. Saat itu katanya, ada turis Polandia yang sangat ingin melihat Tugu Equator dan bertanyalah ia pada kawan kita ini. Sayang, ia pun belum tahu persis lokasinya, nah kesempatan ini ia gunakanlah sepenuhnya untuk memastikan di mana letaknya. Manakala kehebohan itu terjadi di dalam mobil Innova yang setiap hari melaju bak setrikaan bolak-balik Balikpapan, Samarinda, Bontang itu sang pengemudi (mungkin) bertanya dalam hati: Apa sih e k u a t o r itu sampai segitu inginnya si Ibu ini melihat tugunya?

Untung ia berani bertanya, itupun beberapa saat setelah akhirnya kita menemukan lokasinya. Terletak sekitar 20 Km setelah kota Bontang di pinggir jalan Bontang – Samarinda di sisi sebelah kanan jalan. Beruntung, tempat tugu itu berada sedang direnovasi sehingga ada banner penunjuk yang tertulis besar-besar di tepi jalan. Kami menyaksikan sebuah tangga berundak sedang dibangun menaiki bukit tempat ia berdiri menjulang dan sepertinya sebuah taman yang akan mengelilinginya. Syukurlah ada perhatian terhadap monumen ini.

Beberapa saat kemudian perbincangan dalam mobil itu hanyalah soal Tugu Equator itu. Saya sendiri sesungguhnya baru sekali ini melihat Tugu Equator, meskipun kenal namanya sudah lama. Sebenarnya yang paling saya ingat dan kenal adalah Tugu Equator atau Tugu Khatulistiwa di Pontianak. Tugu di Bontang ini saya baru ngeh setelah ada ekspedisi off road tahun 2009 oleh kawan-kawan dari kawan saya seorang fotografer yang hobinya menempuh medan sulit dengan kendaraan 4×4. Namanya Bung Iwan Kurniawan. Ia waktu itu menjelaskan bahwa ekspedisi tersebut menempuh jalur khatulistiwa dari Kalimantan Barat ke Kalimantan Timur, wah pati medannya sangat luar biasa sulit karena hutan dan sungai di perbatasan kedua provinsi dengan Kalimantan Tengah juga sangat sulit!

Ia saat itu menambahkan bahwa di Bontang mereka akan singgah di Tugu Equator ini. Nah sejak saat itu saya aware ternyata di Bontang juga ada tugu ini. Karena memang Garis Equator atau Khatulistiwa atau garis nol derajat bujur bumi ini melintasi dua kota itu. Itu juga yang kita jelaskan kepada driver kami yang haus informasi itu.

Tugu Equator tentu sebuah fenomena dan alasan yang menarik bagi orang datang ke tempat ini. Apalagi jika ketika sampai di sini ada nilai lebih yang ditawarkan. Tentu nilai lebih itu bukan atraksi dangdut, pedagang asongan dan kaki lima yang semrawut, apalagi sampah plastik. Bagaimana dengan sebuah museum yang berisi informasi geografi, astronomi, dan iklim? Mungkin menarik. Salam.***

Advertisements

One comment on “Menara Equator di Bontang Bersolek

  1. Saiful Bahri
    March 24, 2011

    pembangunannya baru slesai. Saat ini akan diresmikan.

Comments are closed.

Information

This entry was posted on February 4, 2011 by in kaltim and tagged , , , , .
%d bloggers like this: